Rabu, 20 September 2023

PERNIKAHANKU HANYA SEUMUR DATANG

 Cerpen 05#
PERNIKAHANKU HANYA SEUMUR JAGUNG

Oleh Felli Taira




"Aku tidak setuju jika kamu menikah dengannya. Apa yang kamu lihat dari dirinya, apa tidak ada lagi orang lain dimatamu. Haruskah dia?". Suara ibu meninggi, matanya merah menahan marah.
"Aku hanya ingin menikah dengannya, semua teman-temanku sudah menikah. Aku tidak peduli ibu, kakak, Abang ataupun keluarga tidak setuju. Jangan salahkan aku jika berbuat tidak baik nantinya, lebih baik nikahkan aku dengan cara yang baik".
Aku tetap bersikeras dengan keputusanku dan juga mengancam jika permintaanku tidak dipenuhi. 

" Yolla kamu dengar ibu baik-baik. lelaki itu tidak baik untukmu. Ibu sangat tahu dia itu seperti apa dan ibu tidak melarangmu untuk menikah tapi jangan dengannya. Dia itu...." Belum selesai ibu bicara tiba-tiba bang Roy datang. " kalau kamu tetap ingin menikah dengannya jangan pernah lagi menjadi keluarga kami. Pergilah kamu dengan lelaki pilihanmu" . " Oke aku akan pergi dengannya". Mendengar ucapakanku seperti itu bang Roy ingin menamparku. Tangannya sudah sangat dekat sekali kewajahku namun ibu segera menghentikan. " Jangan Roy, bagaimanapun dia adikmu jangan pernah menyakiti atau menamparnya. Kita bicarakan lagi ini setelah semua tenang".

2 Minggu setelah itu keluargaku luluh dan mengurus semua acara pernikahanku. Entah mereka terpaksa karena ancamanku atau memang benar telah setuju aku tak tahu. Yang jelas akhirnya aku menikah dengan lelaki pilihanku.
Satu Minggu, dua Minggu sifat asli lelaki yang aku perjuangkan mulai menampakan watak aslinya. Sangat berbeda saat aku belum menjadi istrinya.
Dia sangat pelit untuk memberikanku nafkah, dia tidak mengisi belanja dapur. Uangnya sangat rapi disembunyikan. 


Saat ayahku sakit, dia tidak mau mengantarkan berobat. Hanya mengeluarkan kata " Dia bukan ayahku".
Sungguh perih dan sakit hati ini, setiap hari harus merasakan derita melihat kelakuannya, sementara aku tidak bisa berbuat apa-apa. Pertengkaran demi pertengkaran mewarnai hari-hari kami.
Hampir setiap hari aku menangis menahan rasa sakit namun tidak ada tempat aku untuk berbagi. Kepada ibu? Kaka atau keluarga? Tidak mungkin, mereka akan menyalahkan aku karena dia adalah pilihanku.


Dua bulan pernikahan aku sudah tak kuat bersamanya. Aku memutuskan untuk tinggal dengan ayahku karena dia tinggal sendiri. Sementara ibuku sudah punya keluarga baru aku tak ingin mengganggunya.
Entah rasa apa ini, antara  sedih dan juga malu. Apa kata orang-orang baru saja menikah namun rumah tangga sudah mulai goyah. Awal pernikahan yang aku bayangkan indah tapi ternyata tidak.  Selama aku pisah rumah dengannya, tak ada usahanya sedikitpun untuk memperbaiki hubungan ini.
Dan tepat menginjak bulan ketiga pernikahan dia telah menceraikan aku.


Aku duduk terdiam dikamar, badanku mulai gemetar, kakiku sudah tak bisa berdiri. Dunia seakan sepi bagiku. Pikiranku mulai menimbulkan pertanyaan, apa kata orang-orang nanti di usiaku yang baru menginjak 20 tahun tapi sudah menjadi janda muda hanya 3 bulan pernikahan.
Aku malu untuk menatap mata ibu, baru kemarin rasanya pertengkaran hebat itu terjadi. Aku dengan lantangnya melawan ibu hanya karena seorang lelaki. Aku dengan sombong dan keras kepalanya tidak peduli keluargaku menasehati untuk tidak menikah dengannya.

Air mataku mulai mengalir deras, aku menangis dikamar sendiri menyesali atas kebodohanku.
Menyesali kenapa tidak mendengarkan perkataan ibu, kenapa hanya karena teman-temanku sudah menikah membutakan aku hingga tak peduli lagi memikirkan untuk kedepannya.
Kini hanya tinggal penyesalan dan rasa trauma. Mencoba menata kembali hidup yang sudah hancur karena kesalahanku sendiri.

Tak butuh waktu lama kabar perceraianku sudah sampai ketelinga ibu,  saat aku sedang duduk diruang tamu tiba-tiba ibu datang. Dia sudah didepan pintu. Aku yang melihatnya segera berlari kepelukannya. "Maaf...maaf..maafkan aku ibu" Hanya kata maaf yang keluar dari bibirku dengan isak tangis yang tak terbendung.

Ibu hanya diam dan membelai rambut dan punggungku, mendengarkan isak tangisku. Setelah tangisku mereda baru ibu berbicara. "Nasi sudah jadi bubur nak, sudah jangan menangis lagi. kamu masih muda masih punya masa depan. Ibu ada disini untukmu jangan bersedih lagi". Mendengar perkataan ibu dan berada dalam pelukannya membuatku merasa nyaman, dan ada tempat bersandar.


Sejak saat itu aku berjanji pada diri apapun yang ibuku tak sukai aku tidak akan lagi melanggar dan melawannya. Peristiwa ini sudah cukup bagiku untuk bekal hidupku kedepan. Orang tua, keluarga adalah orang yang peduli dan tidak akan meninggalkanku meski aku terpuruk dan terjatuh.

Selasa, 19 September 2023

Anak bukan satu-satunya jalan untuk mendapatkan Surga

 Cerpen 04#

Jangan sedih jika belum punya anak dan jangan bangga dulu jika memilikinya
oleh Felli Taira




Matahari sudah mulai kembali keperaduannya, seakan ingin mengatakan cukup sudah tugasku hari ini untuk menghangatkan langit dan bumi. Aku yang masih sibuk memandangi laptopku, menulis dan menuangkan ide-ide untuk bisa tulisan itu segera aku publish tak terasa sudah sore. Tiba-tiba aku terkejut mendengar tangisan, suara yang biasa aku dengar. Aku menolehkan wajah ke kanan dan kulihat Syifa sedang berlari mendekatiku. Dia adalah sahabat dan juga rumah kami bersebelahan. "

"Ada apa? Kenapa kamu menangis?". Aku yang melihatnya keheranan. Dia tidak menjawab dan duduk di sampingku. "Ya sudah menangislah, aku tunggu sampai kamu mau bercerita". Senja dengan langit yang sudah mulai jingga seakan menggambarkan betapa hatinya sekarang sedang lelah. Kami yang tengah duduk diteras rumah terdiam memandangi langit. 

"Kenapa mereka selalu menyakitiku dengan pertanyaan kapan punya anak? Seandainya saja mereka tahu ikhtiarku, doaku dalam sujud panjang memohon dan meminta pada tuhanku. Seandainya saja mereka tahu apa yang aku rasakan apa mereka masih Setega itu padaku? Menertawakanku dibungkus dengan candaan. Tapi untuk apa aku harus berkoar-koar mengatakan tentang perjuanganku untuk memiliki anak". Sambil menangis sesegukan Syifa mulai meluapkan kesedihannya.

Aku yang mendengarkannya hanya diam, aku biarkan dia berbicara meluapkan perasaannya. 5 menit sudah berlalu tangisannya mulai mereda.
Aku mulai berbicara padanya. "Syifa lihat aku, kamu harus ingat anak itu bukan urusanmu, tugasmu itu ikhtiar dan tawakal. Setiap kita jalan hidupnya berbeda dan tidak semua yang orang lain miliki kita juga miliki, begitupun sebaliknya.

 Apa kamu ingat? ada sebuah hadist menyampaikan saat seseorang meninggal dunia maka terputuslah segalanya kecuali ada 3 hal, pertama anak yang sholeh kedua ilmu yang bermanfaat dan ketiga amal jariyah.

Nah kamu ingat lagi Syifa kita semua akan kembali pada sang pencipta, dan yang akan kita bawa cuma amal yang sudah dikumpulkan saat kita di dunia.
Kalau sekarang kamu belum di kasih amanah sama Allah berupa seorang anak, kenapa kamu tidak menyibukkan diri dengan menyebarkan ilmu bermanfaat atau sibuk mengumpulkan amal jariyah. 

Syifa.. tidak memiliki anak itu bukan berarti hina, bukan berarti lemah bukan berarti kamu payah. Ingat bunda Aisyah istri nabi saja tidak memiliki anak. Tapi apa, amal jariyah, ilmunya, kepintaran dalam meriwayatkan hadits sangat banyak.
Jangan jadikan itu beban sementara itu bukan hak mu. Jangan hiraukan perkataan orang-orang itu, mereka berbicara seakan Allah itu tidak ada. Tidak ingat bahwa semua yang mengatur itu Allah".

 Syifa yang mendengar ucapanku mulai mengangkat kepalanya dan menyeka airmata. Menghela nafas perlahan dan mulai tenang.
"Aku tahu bagaimana perasaanmu, tapi ini takdir Allah. Syifa di dunia  ini banyak yang belum diberi keturunan bukan kamu saja, dan kalau kita melihat lebih jauh lagi perjuangan nabi Zakariya lebih hebat lagi. Kamu harus sabar Syifa".

Tiba-tiba Syifa tersenyum dan memelukku. "Makasih Saras, kata-katamu meneduhkan hatiku".
Sontak aku mendengarnya tertawa "hahaha kamu pikir aku payung".
Kamipun tertawa bersama.
"Ya sudah aku pulang dulu ya, takut nanti mas ridho nyariin aku. Dia berlari kembali pulang. "Jangan lupa cuci mukamu Jangan sampai suamimu melihat wajah yang cemberut". Aku berteriak agar dia mendengarkannya.
"Ya okeeee ". Suaranya sayup-sayup tak terdengar karena sudah menjauh.


Aku kembali terdiam dan bergumam dihati. "Bisa-bisanya ada orang tidak berfikir dulu sebelum bicara". Aku sudah bisa menebak orang yang diceritakan syifa adalah bu Ani dan teman-temannya, karena mereka selalu kepo terhadap urusan orang lain.  Ingin rasanya aku menemui Bu Ani, mengingatkan padanya bahwa anak bukanlah satu-satunya jalan ke syurga.

 Jangan bangga dulu jika punya banyak anak, ingat anak itu bermanfaat jika menjadi anak yang Sholeh yang bisa mendoakan orang tua, yang setiap perbuatannya itu baik. Jadi kalau anaknya gak Sholeh malahan nanti kalian akan saling menuntut di akhirat. Di dunia saja kita sudah bisa melihat perlakuan anak seperti apa. Kalau hanya menyusahkan orang tua yakin itu anak akan mendoakan orang tuanya?.

Jangan bangga dulu mempunyai anak banyak kalau belum mengenalkannya dengan tuhannya. orang tualah awal kunci anak itu baik atau buruk. kalau orang tua saja kerjaannya menggosip, ghibah, bergunjin, menyakiti hati orang lain. Hal baik apa yang diajarkan pada anak.

Perasaan kesal mulai menerpaku, wajah bu Ani seakan menari-nari kegirangan didepanku tanpa rasa bersalah.
Segera aku beristighfar dan mendoakannya agar aku juga selamat dari penyakit hati.
Astaghfirullah,..
Bu Ani Aku doakan kamu Bu Ani semoga kamu yang saat ini diberi amanah anak 5 orang menjadi anak yang Sholeh dan Sholeha. Memberatkan amal mu menuju surganya.

PERNIKAHANKU HANYA SEUMUR DATANG

 Cerpen 05# PERNIKAHANKU HANYA SEUMUR JAGUNG Oleh Felli Taira "Aku tidak setuju jika kamu menikah dengannya. Apa yang kamu lihat dari d...