Cerpen 05#
PERNIKAHANKU HANYA SEUMUR JAGUNG
Oleh Felli Taira

"Aku tidak setuju jika kamu menikah dengannya. Apa yang kamu lihat dari dirinya, apa tidak ada lagi orang lain dimatamu. Haruskah dia?". Suara ibu meninggi, matanya merah menahan marah.
"Aku hanya ingin menikah dengannya, semua teman-temanku sudah menikah. Aku tidak peduli ibu, kakak, Abang ataupun keluarga tidak setuju. Jangan salahkan aku jika berbuat tidak baik nantinya, lebih baik nikahkan aku dengan cara yang baik".
Aku tetap bersikeras dengan keputusanku dan juga mengancam jika permintaanku tidak dipenuhi.
" Yolla kamu dengar ibu baik-baik. lelaki itu tidak baik untukmu. Ibu sangat tahu dia itu seperti apa dan ibu tidak melarangmu untuk menikah tapi jangan dengannya. Dia itu...." Belum selesai ibu bicara tiba-tiba bang Roy datang. " kalau kamu tetap ingin menikah dengannya jangan pernah lagi menjadi keluarga kami. Pergilah kamu dengan lelaki pilihanmu" . " Oke aku akan pergi dengannya". Mendengar ucapakanku seperti itu bang Roy ingin menamparku. Tangannya sudah sangat dekat sekali kewajahku namun ibu segera menghentikan. " Jangan Roy, bagaimanapun dia adikmu jangan pernah menyakiti atau menamparnya. Kita bicarakan lagi ini setelah semua tenang".
2 Minggu setelah itu keluargaku luluh dan mengurus semua acara pernikahanku. Entah mereka terpaksa karena ancamanku atau memang benar telah setuju aku tak tahu. Yang jelas akhirnya aku menikah dengan lelaki pilihanku.
Satu Minggu, dua Minggu sifat asli lelaki yang aku perjuangkan mulai menampakan watak aslinya. Sangat berbeda saat aku belum menjadi istrinya.
Dia sangat pelit untuk memberikanku nafkah, dia tidak mengisi belanja dapur. Uangnya sangat rapi disembunyikan.
Saat ayahku sakit, dia tidak mau mengantarkan berobat. Hanya mengeluarkan kata " Dia bukan ayahku".
Sungguh perih dan sakit hati ini, setiap hari harus merasakan derita melihat kelakuannya, sementara aku tidak bisa berbuat apa-apa. Pertengkaran demi pertengkaran mewarnai hari-hari kami.
Hampir setiap hari aku menangis menahan rasa sakit namun tidak ada tempat aku untuk berbagi. Kepada ibu? Kaka atau keluarga? Tidak mungkin, mereka akan menyalahkan aku karena dia adalah pilihanku.
Dua bulan pernikahan aku sudah tak kuat bersamanya. Aku memutuskan untuk tinggal dengan ayahku karena dia tinggal sendiri. Sementara ibuku sudah punya keluarga baru aku tak ingin mengganggunya.
Entah rasa apa ini, antara sedih dan juga malu. Apa kata orang-orang baru saja menikah namun rumah tangga sudah mulai goyah. Awal pernikahan yang aku bayangkan indah tapi ternyata tidak. Selama aku pisah rumah dengannya, tak ada usahanya sedikitpun untuk memperbaiki hubungan ini.
Dan tepat menginjak bulan ketiga pernikahan dia telah menceraikan aku.
Aku duduk terdiam dikamar, badanku mulai gemetar, kakiku sudah tak bisa berdiri. Dunia seakan sepi bagiku. Pikiranku mulai menimbulkan pertanyaan, apa kata orang-orang nanti di usiaku yang baru menginjak 20 tahun tapi sudah menjadi janda muda hanya 3 bulan pernikahan.
Aku malu untuk menatap mata ibu, baru kemarin rasanya pertengkaran hebat itu terjadi. Aku dengan lantangnya melawan ibu hanya karena seorang lelaki. Aku dengan sombong dan keras kepalanya tidak peduli keluargaku menasehati untuk tidak menikah dengannya.
Air mataku mulai mengalir deras, aku menangis dikamar sendiri menyesali atas kebodohanku.
Menyesali kenapa tidak mendengarkan perkataan ibu, kenapa hanya karena teman-temanku sudah menikah membutakan aku hingga tak peduli lagi memikirkan untuk kedepannya.
Kini hanya tinggal penyesalan dan rasa trauma. Mencoba menata kembali hidup yang sudah hancur karena kesalahanku sendiri.
Tak butuh waktu lama kabar perceraianku sudah sampai ketelinga ibu, saat aku sedang duduk diruang tamu tiba-tiba ibu datang. Dia sudah didepan pintu. Aku yang melihatnya segera berlari kepelukannya. "Maaf...maaf..maafkan aku ibu" Hanya kata maaf yang keluar dari bibirku dengan isak tangis yang tak terbendung.
Ibu hanya diam dan membelai rambut dan punggungku, mendengarkan isak tangisku. Setelah tangisku mereda baru ibu berbicara. "Nasi sudah jadi bubur nak, sudah jangan menangis lagi. kamu masih muda masih punya masa depan. Ibu ada disini untukmu jangan bersedih lagi". Mendengar perkataan ibu dan berada dalam pelukannya membuatku merasa nyaman, dan ada tempat bersandar.
Sejak saat itu aku berjanji pada diri apapun yang ibuku tak sukai aku tidak akan lagi melanggar dan melawannya. Peristiwa ini sudah cukup bagiku untuk bekal hidupku kedepan. Orang tua, keluarga adalah orang yang peduli dan tidak akan meninggalkanku meski aku terpuruk dan terjatuh.
Keren cerpennya sbg pelajaran hidup
BalasHapus