Cerpen 04#
Jangan sedih jika belum punya anak dan jangan bangga dulu jika memilikinya
oleh Felli Taira
Matahari sudah mulai kembali keperaduannya, seakan ingin mengatakan cukup sudah tugasku hari ini untuk menghangatkan langit dan bumi. Aku yang masih sibuk memandangi laptopku, menulis dan menuangkan ide-ide untuk bisa tulisan itu segera aku publish tak terasa sudah sore. Tiba-tiba aku terkejut mendengar tangisan, suara yang biasa aku dengar. Aku menolehkan wajah ke kanan dan kulihat Syifa sedang berlari mendekatiku. Dia adalah sahabat dan juga rumah kami bersebelahan. "
"Ada apa? Kenapa kamu menangis?". Aku yang melihatnya keheranan. Dia tidak menjawab dan duduk di sampingku. "Ya sudah menangislah, aku tunggu sampai kamu mau bercerita". Senja dengan langit yang sudah mulai jingga seakan menggambarkan betapa hatinya sekarang sedang lelah. Kami yang tengah duduk diteras rumah terdiam memandangi langit.
"Kenapa mereka selalu menyakitiku dengan pertanyaan kapan punya anak? Seandainya saja mereka tahu ikhtiarku, doaku dalam sujud panjang memohon dan meminta pada tuhanku. Seandainya saja mereka tahu apa yang aku rasakan apa mereka masih Setega itu padaku? Menertawakanku dibungkus dengan candaan. Tapi untuk apa aku harus berkoar-koar mengatakan tentang perjuanganku untuk memiliki anak". Sambil menangis sesegukan Syifa mulai meluapkan kesedihannya.
Aku yang mendengarkannya hanya diam, aku biarkan dia berbicara meluapkan perasaannya. 5 menit sudah berlalu tangisannya mulai mereda.
Aku mulai berbicara padanya. "Syifa lihat aku, kamu harus ingat anak itu bukan urusanmu, tugasmu itu ikhtiar dan tawakal. Setiap kita jalan hidupnya berbeda dan tidak semua yang orang lain miliki kita juga miliki, begitupun sebaliknya.
Apa kamu ingat? ada sebuah hadist menyampaikan saat seseorang meninggal dunia maka terputuslah segalanya kecuali ada 3 hal, pertama anak yang sholeh kedua ilmu yang bermanfaat dan ketiga amal jariyah.
Nah kamu ingat lagi Syifa kita semua akan kembali pada sang pencipta, dan yang akan kita bawa cuma amal yang sudah dikumpulkan saat kita di dunia.
Kalau sekarang kamu belum di kasih amanah sama Allah berupa seorang anak, kenapa kamu tidak menyibukkan diri dengan menyebarkan ilmu bermanfaat atau sibuk mengumpulkan amal jariyah.
Syifa.. tidak memiliki anak itu bukan berarti hina, bukan berarti lemah bukan berarti kamu payah. Ingat bunda Aisyah istri nabi saja tidak memiliki anak. Tapi apa, amal jariyah, ilmunya, kepintaran dalam meriwayatkan hadits sangat banyak.
Jangan jadikan itu beban sementara itu bukan hak mu. Jangan hiraukan perkataan orang-orang itu, mereka berbicara seakan Allah itu tidak ada. Tidak ingat bahwa semua yang mengatur itu Allah".
Syifa yang mendengar ucapanku mulai mengangkat kepalanya dan menyeka airmata. Menghela nafas perlahan dan mulai tenang.
"Aku tahu bagaimana perasaanmu, tapi ini takdir Allah. Syifa di dunia ini banyak yang belum diberi keturunan bukan kamu saja, dan kalau kita melihat lebih jauh lagi perjuangan nabi Zakariya lebih hebat lagi. Kamu harus sabar Syifa".
Tiba-tiba Syifa tersenyum dan memelukku. "Makasih Saras, kata-katamu meneduhkan hatiku".
Sontak aku mendengarnya tertawa "hahaha kamu pikir aku payung".
Kamipun tertawa bersama.
"Ya sudah aku pulang dulu ya, takut nanti mas ridho nyariin aku. Dia berlari kembali pulang. "Jangan lupa cuci mukamu Jangan sampai suamimu melihat wajah yang cemberut". Aku berteriak agar dia mendengarkannya.
"Ya okeeee ". Suaranya sayup-sayup tak terdengar karena sudah menjauh.
Aku kembali terdiam dan bergumam dihati. "Bisa-bisanya ada orang tidak berfikir dulu sebelum bicara". Aku sudah bisa menebak orang yang diceritakan syifa adalah bu Ani dan teman-temannya, karena mereka selalu kepo terhadap urusan orang lain. Ingin rasanya aku menemui Bu Ani, mengingatkan padanya bahwa anak bukanlah satu-satunya jalan ke syurga.
Jangan bangga dulu jika punya banyak anak, ingat anak itu bermanfaat jika menjadi anak yang Sholeh yang bisa mendoakan orang tua, yang setiap perbuatannya itu baik. Jadi kalau anaknya gak Sholeh malahan nanti kalian akan saling menuntut di akhirat. Di dunia saja kita sudah bisa melihat perlakuan anak seperti apa. Kalau hanya menyusahkan orang tua yakin itu anak akan mendoakan orang tuanya?.
Jangan bangga dulu mempunyai anak banyak kalau belum mengenalkannya dengan tuhannya. orang tualah awal kunci anak itu baik atau buruk. kalau orang tua saja kerjaannya menggosip, ghibah, bergunjin, menyakiti hati orang lain. Hal baik apa yang diajarkan pada anak.
Perasaan kesal mulai menerpaku, wajah bu Ani seakan menari-nari kegirangan didepanku tanpa rasa bersalah.
Segera aku beristighfar dan mendoakannya agar aku juga selamat dari penyakit hati.
Astaghfirullah,..
Bu Ani Aku doakan kamu Bu Ani semoga kamu yang saat ini diberi amanah anak 5 orang menjadi anak yang Sholeh dan Sholeha. Memberatkan amal mu menuju surganya.

Kereen sekali ceritanya. Memberikan solusi tanpa melukai. Mantab. Kunjungi pula blog saya di www.abdullahmakhrus.com
BalasHapus